Detail Budaya

gandrung

Sejarah Tari Gandrung Banyuwangi Tari Gandrung adalah tarian khas Banyuwangi yang telah menjadi simbol budaya Suku Osing. Nama “Gandrung” berasal dari kata ‘gandrung’ yang berarti terpesona atau jatuh cinta, menggambarkan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat terhadap hasil panen yang melimpah. Asal-usul Tari Gandrung berakar dari tradisi masyarakat agraris Banyuwangi pada masa lampau. Dulu, masyarakat setempat mengadakan ritual tari untuk Dewi Sri, dewi kesuburan dan padi. Tarian ini menjadi ungkapan rasa terima kasih atas panen yang berhasil. Lambat laun, ritual sakral tersebut berkembang menjadi kesenian rakyat yang lebih terbuka dan dapat dinikmati semua kalangan. Pada awal kemunculannya, penari Gandrung adalah laki-laki yang berdandan seperti perempuan, disebut Gandrung lanang. Hal ini terjadi karena pada masa kolonial, perempuan tidak diperbolehkan menari di depan umum. Seiring waktu, aturan tersebut berubah, dan Tari Gandrung kemudian dibawakan oleh penari perempuan, yang kini dikenal sebagai Gandrung Putri. Ciri khas tari ini adalah gerakan lemah gemulai, iringan musik gamelan Osing, serta busana berwarna mencolok dengan mahkota unik yang disebut omprog. Dalam pertunjukan, penari Gandrung biasanya mengajak penonton menari bersama dalam sesi yang disebut “paju gandrung”, menjadikannya hiburan sekaligus media sosial budaya. Kini, Tari Gandrung tidak hanya menjadi bagian dari upacara adat, tetapi juga simbol identitas Banyuwangi. Setiap tahun, ribuan penari tampil dalam Gandrung Sewu, sebuah pertunjukan kolosal di Pantai Boom yang telah menjadi ikon pariwisata Banyuwangi.

← Kembali ke Daftar Budaya