Detail Budaya

Puter Kayun

Sejarah Tradisi Puter Kayun Banyuwangi Puter Kayun adalah tradisi budaya masyarakat Banyuwangi, khususnya warga Desa Boyolangu dan sekitarnya, yang sudah berlangsung ratusan tahun. Tradisi ini merupakan bentuk ritual syukur, ziarah budaya, dan penghormatan kepada leluhur, terutama kepada tokoh sejarah Buyut Cili, sosok yang dipercaya berjasa besar dalam membuka pemukiman dan mengajarkan nilai kehidupan kepada masyarakat setempat. Nama “Puter Kayun” berasal dari dua kata: Puter → memutar atau berkeliling Kayun → niat atau kemauan hati Secara makna, Puter Kayun berarti perjalanan berkeliling dengan niat tulus, sebagai simbol kesucian hati dan rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini dilaksanakan setiap 1 Suro (1 Muharram) dalam kalender Jawa. Pada hari itu, warga melakukan kirab budaya dari Boyolangu menuju Pantai Blimbingsari. Rombongan biasanya menggunakan kereta kuda (andong) yang dihias, diikuti masyarakat yang berjalan bersama dalam suasana meriah. Perjalanan ini melambangkan perjalanan leluhur dan bentuk penghormatan atas jasa mereka. Sesampainya di pantai, warga melakukan doa bersama, ritual sedekah laut, dan penghormatan kepada Buyut Cili. Prosesi ini juga menjadi simbol pembersihan diri dari hal buruk serta permohonan keselamatan untuk tahun yang baru. Kini, Puter Kayun bukan hanya tradisi lokal, tetapi juga telah ditetapkan sebagai agenda budaya tahunan Banyuwangi. Acara ini selalu menarik wisatawan karena memadukan unsur sejarah, religi, seni hias, dan keramaian masyarakat dalam satu kegiatan yang penuh makna.

← Kembali ke Daftar Destinasi